Archive
| Mo | Tu | We | Th | Fr | Sa | Su | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | ||||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
Poll: Indonesia
Did you enjoy this article?
Melihat dan mendengar lagu “Rasa Sayange” (lagu rakyat: Maluku, NN – pen) telah digunakan oleh Malaysia, baru Jakarta kebakaran jenggot. Baru kalut-ribut, baru ingat bahwa itu lagu Indonesia! Kalau lagu tersebut tak dipakai dan diklaim orang: masa bodoh! Dibiarkan jadi khazanah budaya yang melapuk dan membusuk! Setelah dipakai dan “diangkat” orang, baru tekacal-ganyah “mengobrak-abrik” pabrik piringan hitam Lokananta di Solo, untuk mencari piring ebonite yang memuat lagu tersebut! Owalah, memang begitulah ulah orang pemerintah, setelah terantuk batu tengadah!
Padahal jauh sebelum itu, dalam salah satu “album emas” penyanyi Malaysia Siti Nurhaliza – sealbum dengan lagu: Cindai – dua lagu rakyat Indonesia (NN: tanpa nama pencipta) telah dipakai pula oleh penyanyi ternama tersebut, yaitu: Kaparinyo ( Sumatera Barat) dan Es Lilin (Jawa Barat). Lagunya tetap, syair diubah! Tentu album tersebut laris manis dijual ke Sumbar dan Jabar. Celakanya, di Indonesia album tersebut dibajak dan dicetak banyak oleh oknum orang Indonesia, sehingga VCD-nya dijual Rp 5 ribu di kakilima! Dipakai dua bulan: error!
Tahun 1957, setelah beroleh kemerdekaan, secara resmi Malaysia minta izin untuk menggunakan lagu “Terang Bulan” sebagai lagu kebangsaannya. Pemerintah RI – Bung Karno – tidak keberatan. Bahkan dikeluarkan imbauan lewat RRI, agar lagu “Terang Bulan” (… terang di kali, buaya timbul disangka mati, jangan percaya mulut lelaki, berani sumpah tapi takut mati! – pen) itu tidak dinyanyikan lagi oleh anak-anak sekolah dan masyarakat Indonesia. Terakhir ini, Malaysia mempertunjukkan tarian “barong” dan menyatakan bahwa tarian yang tak ubahnya dengan reog Ponorogo itu adalah mereka punya. Puluhan tahun lalu, permainan “kuda kepang” (kuda lumping) pun sudah dimainkan orang di Semenanjung Malaysia.
Anehnya, dalam perangkat instrumen musik untuk mengiringi tarian “barong” itu ada pula alat musik: angklung! Padahal angklung itu sebuah alat musik kreasi baru seniman Sunda – kalau tak salah tahun 60an – inovasi dari alat musik bambu tradisional Jawa Barat (calung?). Dan alat musik bambu serupaangnya ada di khazanah musik Dayak Kalimantan Barat, yaitu: senggayung! Sasando alat calung itu, nenek-moy musik khas Nusa Tenggara Timur itu, nenek-moyangnya – dalam bentuk lebih kuno – ada di Kalimantan Barat, bernama: kombon (agak besar) dan antoneng! Serupa dan sama – hanya saja menggunakan buluh betung – ada di Karo (Sumatera Utara) bernama: keteng-keteng! Alat musik kulintang (Sulawesi Utara) juga, kalau mau melihat bentuk awalnya ada di Kalimantan Barat, yaitu: galentang! Kepingan kayu atau bambu itu baru direnteng dengan tali kepuak saja, belum dibuatkan “rumah” seperti halnya kulintang atau vibraphone!.
Tenun ikat Dayak hingga NTT dan Timor Leste, peralatannya sama dengan yang ada di Myanmar. Pembawa budaya tersebut dari daratan Asia ke Nusantara ini bisa didakwakan kepada: Proto Melayu atau Deutro Melayu! Apa yang terlihat? Sebuah mata rantai perjalanan budaya yang panjang, yang antara satu dengan lainnya memiliki: benang merah! Asalnya dari nenek-moyang yang sebelanga juga!
Orang Minangkabau tak akan protes kalau menemukan “rumah gadang” atap bergonjong serta alat musik talempong di Semenanjung Malaysia. Begitu juga dengan Bugis dan Melayu. Macam mana nak bantah, nenek-moyang orang Malaysia itu juga Minang, Bugis, Melayu dan lain-lain puak di Nusantara ini. Melaka Tumasik negeri tua, bandar ramai dahulu kala, berbilang bangsa ada di sana, berdagang bergaul bertukar budaya. Hingga sampai ke zaman kini, ada imigran Jawa ada TKI, mencari hidup di itu negeri, membawa budaya yang bervariasi. Cina India ada di sana, Arab Parsi juga ada, mana nak pilah keturunannya, mereka jadi bangsa Malaysia! Semua mereka bersatu padu, hidup bersama di Tanah Melayu, kaya budaya syair dan lagu, khazanah dijual sangatlah laku. Tanah Sarawak khazanah kuno, mereka bikin sebuah pemeo, Cultural Haritage of Borneo, berduyun turis datang melongo. Begitu keadaan di negeri jiran, mereka himpun segenap kekuatan, bukan untuk berlawan-lawan, tapi untuk menarik wisatawan. Malaysia dikata Truly Asia, begitu mereka punya programa, jadi turis tak payah kemana, mengenal Asia cukup ke Malaysia. Pemimpin jujur serta bermutu, membuat rakyat bersatu-padu, rakyat sejahtera serta maju, tak ada kalut dan haru-biru.
Tanggal 14 November 2007, Bupati Kabupaten Pontianak Drs H Agus Salim dan Wakil Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi menandatangani nota kesepakatan (MoU) di Melaka (Malaysia) bersama DR Abdul Latief Abu Bakar Ketua ISMMA (Institut Seni Malaysia Melaka). MoU yang diteken, berkenaan dengan: kain songket! Isinya kira-kira: Sambas dan Kabupaten Pontianak tukang buat kain songket, Melaka siap menampung untuk pemasaran!
Mauliati, wanita muda kelahiran Sambas 15 April 1973 seorang pewaris kepiawaian bertenun songket Sambas berucap,”Ingin sih terus memperbesar usaha, tapi masalahnya terbentur kepada tenaga penenun. Sebab penenun di Sambas ini sudah banyak dibawa orang Brunei untuk bertenun di sana!” Setakat ini Mauliati memiliki 12 alat tenun tradisional, 8 di antaranya ia titipkan kepada sesama penenun yang bekerja untuknya.
Bukan hanya penenun songket Melayu dan tenun ikat Dayak (Iban – Kapuas Hulu) yang diboyong ke Brunei dan Sarawak, tapi juga pengukir Jepara! Selain bertenun dan mengukir di sana, mereka juga mendidik warga setempat yang berminat. Sejumlah pelatih tari diajak melatih tari di Sarawak, diberi fasilitas dan bayaran pantas. Yang demikian ini bukan baru berlangsung sekarang, tapi sejak belasan tahun lalu!
PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) Kalbar mencatat, lebih dari 30 penyanyi dan pemusik Kalbar dipakai untuk meramaikan klab malam di Sarawak. Di negeri sendiri, walau piawai tak terpakai!
Selain itu berbagai hasil kerajinan dari Kalbar dipesan dan ditampung di Sarawak untuk dijual di sana. Di dalam negeri tak dapat pasaran, turis tak ada, siapa nak beli. Kalau pun ada turis dari Malaysia, mereka hanya menyerbu mal, memborong pakaian dan lain barang yang terbilang murah-meriah bagi ukuran kocek mereka. Seorang pejabat dari Dinas Pariwisata berkata,”Kita perlu membangun sebuah art shop di Pontianak ini.” Percuma. Arts shop yang ada saja megap-megap, bahkan ada yang jualan ke Sarawak dan lari ke Bali! Yang dijual di Dekranasda Jalan Rahadi Osman Pontianak saja, jarang orang kunjungi!
Minggu malam 18 November 2007, TVRI menayangkan penampilan sebuah orkes Melayu dari Palembang. Seorang penyanyi wanita mendendangkan lagu “Mak Elang”, yang lagunya persis sama dengan lagu “Batu Tingik” yang ada di album VCD “Rentak Kapuas 2003”. Hanya syairnya berbeda, Mak Elang berbahasa Melayu Palembang, Batu Tingik berbahasa Melayu Sekadau! VCD “Rentak Kapuas 2003” itu berisi lagu-lagu berbahasa Melayu Sekadau (Kalimantan Barat), yang keseluruhannya ciptaan Lukmanulhakim Cs, kecuali “Batu Tingik” (NN – Sekadau).
Diantara “Mak Elang” dan “Batu Tingik” itu, entah siapa yang jadi pencuri! Apakah lagu tersebut memang lagu rakyat di Palembang dan Sekadau? Kenapa jauh amat? Sedangkan di Sanggau dan Sintang yang dekat dengan Sekadau saja, lagu rakyat macam itu tak dikenal. Terlepas dari siapa yang “maling”, alangkah mudahnya untuk “mencaplok” lagu yang NN: No Name, tanpa nama pencipta! Ditandai, dalam penampilan orkes Melayu dari Palembang itu tidak melulu menampilkan lagu-lagu daerah khas Sumatera Selatan saja, tetapi juga lagu “Cindai” (Siti Nurhaliza – Malaysia) dalam bentuk yang utuh. Di album “Rentak Kapuas 2003” ditandai ada lagu Barat yang diramu dan dipakai oleh Lukmanulhakim menjadi lagu yang berbahasa Melayu Sekadau!
Kalau bicara soal membajak, menjiplak lagu maupun film, memang Indonesia tempatnya! Termasuk memalsu produk dari merek-merek terkenal di dunia! Dalam hal ekstasi hingga korupsi, pun Indonesia menempati peringkat atas. Tatkala harta negara saja tak terlindungi, konon pula berpikir untuk melindungi hak cipta budaya sebuah bangsa! Setelah terantuk baru tengadah, setelah dipaten dan diklaim orang baru marah! ***
PADA mulanya adalah kemarahan. Setelah itu terbitlah iklan.
Rabu (19/12), Sido Muncul memang meluncurkan iklan Tolak Angin ''Truly Indonesia'' yang dibintangi oleh Butet Kartaredjasa dan Agnes Monica di Anjungan Bali, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Dalam iklan berdurasi 1 menit dan berilustrasi lagu ''Rasa Sayange'' itu, Butet menyatakan betapa Indonesia memiliki kekayaan budaya semacam angklung, reog Ponorogo, batik, Tari Pendet, Hombo Batu, dan Tari Folaya. Diselingi visualisasi indah kesenian yang diduga diklaim oleh Malaysia itu, Butet bilang, semua itu merupakan kesenian asli Indonesia. Karena itu sambil melempar kerling menggoda, Agnes menyebut segala hal yang terpajang dilayar sebagai truly Indonesia.
Kok mirip tagline turisme Malaysia, ''Malaysia Truly Asia''? ''Ya ini memang merupakan sindiran terhadap Malaysia. Ini upaya kami menjaga kesadaran budaya. Lewat iklan ini saya mengajak bangsa kita berbalik arah dari abai ke kepedulian yang tinggi terhadap budaya,'' kata Direktur Perusahaan Jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat.
Tak hanya ''melawan'' dengan iklan, melibatkan moderator Efendi Ghazali dari Republik Mimpi, Hidayat juga mengajak budayawan Mohamad Sobary, rohaniwan Romo Muji Sutrisno, praktisi media Arswendo Atmowiloto, teaterawan Putu Wijaya, dan anggota DPR Alvin Lie menggagas persoalan itu dalam Sarasehan Cinta Budaya Indonesia bertema ''Indonesia is Truly Indonesia''.
Hasilnya sungguh tak terduga. Sobary setelah panjang lebar menyatakan berbagai teks sastra Indonesia juga sudah dicuri Malaysia, ia menutup opini dengan mengatakan, ''Kita ini memang sedang tertatih-tatih menuju manusia Indonesia. Tidak mudah. Sudah begitu kok ada yang mencuri budaya Indonesia. Jadi, bangsatlah pencurinya.'' Adapun Romo Muji justru melihat fenomena ini sebagai kesempatan untuk meraba keindonesian kita kembali. Keindonesiaan yang terlihat maupun yang tak terlihat.
Provinsi Ke-34
Meskipun demikian, Arswendo malah berharap semua budaya Indonesia diklaim oleh Malaysia. ''Biarkan batik diambil. Biarkan angklung diambil. Biarkan reog diambil. Biarkan pulau kita diambil. Biarkan semuanya diambil, asal Malaysia menjadi provinsi ke-34 Indonesia,'' ujar pria kocak ini dalam mimik serius.
Butet yang tampil membacakan monolog ''Orang Pinter Menjaga Tradisi'' juga membiarkan Malaysia mengklaim apa pun yang dimiliki Indonesia. ''Asal ia juga mengambil ranking nomor satu kita sebagai negara terkorup,'' kata pria yang monolog Sarimin-nya hampir dicekal di Surabaya itu.
Yang menarik, Putu Wijaya malah mengucapkan terima kasih kepada Malaysia. ''Jika Malaysia tidak mengambil segala budaya kita, kapan kita berteriak-teriak mengenai kebudayaan kita? Hanya saya ingatkan, kita tak perlu marah-marah kepada Malaysia. Kita harus berani marah kepada diri sendiri mengapa sampai budaya-budaya kita diambil orang. Kita harus marah pada diri sendiri karena kenyataannya kita tidak menjaga kebudayaan.''
Apa pendapat politikus? Alvin Lie bersyukur karena ada iklan dan sarasehan yang menggugah kebersamaan kita sebagai bangsa. ''Kebersamaan kita sedang berada dalam krisis. Diperlukan apa pun yang memungkinkan orang menghargai kebersamaan. Tapi, apakah cukup berkualitas kebersamaan yang timbul akibat kemarahan kepada Malaysia? Dalam situasi yang semacam ini, saya kira kita harus menjaga martabat. Jika Pak Irwan bergerak di jalur bisnis, saya akan bergerak di jalur politik.''
Selesai? Belum. Penyanyi jazz Iga Mawarni justru membocorkan beberapa hal yang membuat forum bimbang menentukan sikap. ''Hati-hati bertindak. Setelah melakukan berbagai pengamatan, saya menangkap kesan Malaysia tak pernah mengklaim apa pun yang dimiliki oleh Indonesia. Bahkan muncul informasi yang membuat iklan promosi berlagu 'Rasa Sayange' itu ternyata orang Indonesia. Jadi, sebaiknya kita rasional dalam memandang segala hal. Jangan reaktif.''
Pernyataan Iga diamini oleh Putu. ''Ya, setelah hiruk-pikuk ini selesai, kita sebaiknya segera menyadari keabaian kita pada budaya.''
Lalu, apakah Hidayat salah melakukan reaksi lewat iklan itu? Tak ada jawaban. Yang jelas iklan Sido Muncul dan iklan layanan yang dipersembahkan perusahaan jamu itu kepada pemerintah secara simbolis diberikan kepada anggota DPR Bambang Sadono.
''Saya hanya ingin menggugah kesadaran rakyat lewat iklan ini paling tidak selama dua bulan. Setelah itu, saya berharap siapa pun bisa terlibat menjaga kesadaran untuk mencintai produk budaya yang selama ini diabaikan,'' kata Irwan menandaskan.
Jadi, silakan ikut ''marah'' setelah menyaksikan Butet dan Agnes menggedor kesadaran Anda. (Triyanto Triwikromo-46)
Indon
TERANG saja kata ini tidak dikenal di Indonesia. Menyeberang ke Malaysia atau Singapura, kita akan mendengar dalam percakapan sehari-hari dan membaca di koran-koran: Indon.
Apa itu?
Ketika tiba di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu sebagai mahasiswa di Malaysia, hingga sekarang pun, saya tak pernah berpikiran lain memperkenalkan diri kecuali sebagai orang Indonesia. Namun, orang Malaysia punya cara sendiri menyebut orang Indonesia dan apa saja yang berbau Indonesia. Mereka menggunakan kata Indon. Di kedai-kedai teh tarik, di jalan-jalan, di koran, di televisi, Indonesia tereliminasi dan digantikan dengan Indon.
Bukti tertulis bisa kita temukan sebagai judul berita koran di sana: "Tiga Puluh Pekerja Indon Ilegal Ditangkap" (Berita Harian), "Gaduh Sesama Pekerja Indon" (Harian Metro), dan "Indon Polls Could Stall Reforms" (New Straits Times).
Mula-mula ada perasaan lucu mendengar dan membaca Indon. Sama lucunya ketika mendengar lidah Malaysia menyebut beda sebagai beza, rahasia sebagai sulit, mobil sebagai kereta, dan sebagainya. Lama-lama muncul rasa geram, kesal, dan marah. Selain tidak dapat menerima Indonesia disingkat sebagai Indon, alasan saya yang lebih mendasar adalah bahwa penyebutan itu berkonotasi negatif dan terkesan melecehkan.
Berprasangka buruk?
Rasanya tidak. Dua bangsa yang warga negaranya banyak bekerja di Malaysia dan kerap menimbulkan masalah adalah Indonesia dan Banglades. Yang disebut terakhir mendapat perlakuan yang sama dengan Indonesia. Orang-orang Banglades dan yang berbau Banglades di Malaysia disebut Bangla. Setahu saya tak ada bangsa lain di negeri Melayu itu yang mendapat perlakuan demikian.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur melalui bidang penerangannya sudah sering melayangkan protes kepada media di Malaysia agar kata Indon tidak digunakan lagi, seraya mengimbau mereka supaya memakai kata Indonesia secara lengkap. Hasilnya? "Sudah ada sedikit perubahan," kata Kepala Bidang Penerangan KBRI Budhi Rahardjo. "Untuk judul berita, misalnya, kata Indonesia sudah ditulis lengkap walau sesekali masih ada media yang memakai Indon."
Lain media lain khalayak ramai. Indon dan Bangla tetap saja dipakai sampai hari ini. Ironisnya, tak sedikit WNI di Malaysia yang justru latah dan ikut-ikutan menggunakannya tanpa rasa bersalah. Tak jarang mereka memakainya untuk melecehkan bangsa sendiri.
Orang Malaysia kenalan saya, Encik Rusdi Abdullah yang dosen bahasa Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, berpendapat tak ada maksud buruk bila orang Malaysia menyebut Indonesia sebagai Indon.
"Ini soal persepsi saja. Sungguh, sama sekali tak ada maksud apa-apa, apalagi sampai berniat menyepelekan orang Indonesia dengan sebutan itu," katanya. "Indonesia tetap Indonesia, sebuah bangsa yang besar, lebih-lebih lagi kita serumpun."
Encik Rusdi mungkin benar bahwa tak ada niat buruk dengan penyebutan itu. Namun, saya selalu terganggu dan berharap suatu saat tak ada lagi Indon selain Indonesia untuk menyebutkan bangsa yang terus berusaha menegakkan demokrasi dan kebebasan pers setelah Soeharto lengser keprabon.
Salah satu cara saya untuk menggenapi harapan itu adalah menolak kalau dipanggil atau disebut sebagai orang Indon sambil menjelaskan bahwa saya adalah orang Indonesia, bukan Indon. Kalau seluruh WNI melakukan itu, saya yakin akan ada pengaruh yang besar.
Barangkali relevan mengaitkan soal ini dengan imbauan Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia KPH Rusdihardjo: "Mari menjadi WNI yang baik di Malaysia dengan menjunjung tinggi nama baik bangsa kita."
NASRULLAH ALI-FAUZI Mahasiswa Indonesia pada Institut Kajian Malaysia dan Antarbangsa (IKMAS), Malaysia
Dikutip dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/11/Bahasa/1425763.htm
Bertengkar Hingga Dunia Maya
Jakarta: Perseteruan Malaysia dengan Indonesia tak kunjung habis. Bukan hanya di tingkat pemerintahan, kecurigaan bahkan kebencian menyebar hingga akar rumput. Perang dunia maya. Itulah yang sekarang sedang terjadi di internet antara para blogger Indonesia dan Malaysia.
Sejumlah situs dibuat oleh para blogger Malaysia. Isinya, kecaman dan hujatan atas Indonesia. Sebaliknya, sejumlah blogger asal Indonesia juga menumpahkan kemarahan yang sama. Menanggapi hal ini, Presiden Blogger Indonesia Enda Nasution menilai perang blog ini tak perlu terjadi. "Situs www.ihateindon.blogspot.com sudah melanggar term condition penyedia layanan blog," ujar Enda.
Menurut Karim Raslan, kolumnis asal Malaysia, salah satu penyebab meruncingnya hubungan Indonesia-Malaysia adalah banyaknya warga Indonesia yang datang ke Malaysia. "Ini menjadi masalah sosial buat Malaysia," ungkap Karim.
Benarkah ketidakharmonisan kedua negara serumpun ini adalah kelanjutan sejarah atas konflik yang selalu mewarnai hubungan kedua negara? Mulai dari era Sukarno hingga saling klaim hak cipta. Temukan jawabannya dalam rekaman video Topik Minggu Ini edisi Rabu (12/12) yang juga dihadiri politisi Partai Amanat Nasional, Alvin Lie.
Dikutip dari : http://www.liputan6.com/progsus/?id=152062
Ciri Khas Indonesia Promosi Malaysia di TV Italia
Pengirim: Imelda Tenyala
Salam dari Italia. Saya WNI yang bermukim di Italia karena menikah dengan pria Italia. Hari Selasa (25/12/07), sekitar jam 16.00 waktu setempat, kami menyaksikan program dokumenter di stasiun televisi (TV) lokal (RAI3) tentang promosi kebudayaan Malaysia. Yang mengejutkan, semua kebudayaan, pakaian, sampai makanan yang dipromosikan adalah ciri khas kebudayaan, pakaian, dan makanan Indonesia.
Bayangkan saja, masa ada tayangan tentang proses pembuatan batik dengan menggunakan cangklong, lalu ada penari-penari jawa dengan blangkon Jawa, ada wayang kulit dan ada tayangan tentang kue mangkok.
Ini tidak sesuai dengan pernyataan Menbudpar bahwa Malaysia akan menghargai kebudayaan Indonesia dengan mengumumkannya setiap kali mereka 'meminjam' budaya Indonesia. Kenyataannya, dua hari lalu dokumenter tersebut ditayangkan tanpa embel-embel 'meminjam kebudayaan Indonesia'.
Saya juga pernah menegur salah satu pegawai toko cinderamata di Kuala Lumpur International Airport (sekitar setahun lalu sewaktu transit) mengenai topeng Bali yang dijual sebagai cinderamata Malaysia. Saya minta setidaknya untuk memasang label 'topeng Bali'. Tapi pegawai tersebut malah tertawa-tawa dan mengatakan 'sama saja, Malaysia Indonesia tak ada beda'.
Setelah saya mengomel, jawaban yang dia berikan adalah, 'Saya cuma orang suruhan. Tak bisa berbuat apa-apa'. Dan akhirnya karena keterbatasan waktu transit, saya tidak bisa menunggu manajer toko yang sedang tidak berada di situ.
Saya ingin mengimbau kepada Bapak Menbudpar agar mengambil tindakan yang sangat tegas terhadap tindakan Pemerintah Malaysia, dengan mengirimkan surat terbuka melalui media masa lokal dan internasional kepada Pemerintah Malaysia. Agar menghormati kebudayaan Indonesia lalu segera mendaftarkan hak paten untuk kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Memang untuk menghadapi permasalahan ini kita tidak perlu emosi. Tapi juga harus tanggap dan bertindak tegas dan cepat. Karena bila kebudayaan kita tidak segera diselamatkan sektor pariwisata kita akan semakin lemah dan pengangguran akan semakin meningkat.
Maju terus Indonesiaku!!! Jauh di mata, namun selalu dekat di hati!!!
Imelda Tenyala
Via Sasso del Numero 8 Castelmarte (Como) - Italia
imelda.tenyala@yahoo.com
+393351689663
Dikutip dari : http://suarapembaca.detik.com/








